Friday, April 26, 2013

Jajal Trans Studio Mall Makassar

Field research Papyto telah selesai.  Abang  Zidan juga telah sebulan ijin dari sekolah.  Tanggal 28 lusa mereka harus  balik ke Jepang untuk melanjutkan sekolah.  Hari ini, kita bersama-sama pergi ke Trans Mall untuk membeli tiket Papyto dan Abang Zidan.  Lho, kok malah ke mall? Karena di Trans Mall sedang ada pameran travel, jadi kalau beli tiket di pameran bisa dapat diskon :)

bareng Mama Aji...

kalau lagi malas difoto Abang Zidan pasang wajah konyol-konyol...

seolah-olah di Eropa

Sunday, April 21, 2013

Aqiqah di Rumah Sudiang

Kali ini, Pappito mau mengadakan acara untuk aqiqah Akachan di Makassar saja. Dulu Abang Zidan dan kakak Zaila-Zaira aqiqahnya di Sorowako. Nah kali ini di Makassar, jadi Pappito bisa mengundang teman-teman dekat...

Persiapan yang paling utama adalah mengecat rumah. Ya! Untuk pertamakalinya selama 8 tahun ditinggali, rumah kita yang penuh coretan Abang Zidan dan Zaila-Zaira akhirnya di poles juga.  Untuk urusan beli kambing dan masak-masak, kita percayakan ke Bibi Jay yang berurusan dengan pihak katering :)
 
Sebelum potong rambut, pembacaan do'a dulu ya...

doanya di pimpin oleh Pak Imam Masjid Multazzam, Taman Sudiang

Pappito yang pertama memotong rambut Akachan

Lalu Bapak Haji dan Mama Haji...

Menyusul Pada Irin...

...dan Paman Udi...

Kemudian Bibi Jay...

Selesai pemotongan rambut....

Dikunjungi oleh kakak-kakak, dan tante-tante....

Kakak 02-Zaira  berjaya, main-main tanpa sendal...

Mama Aji, spesialis pembuka kado :)
Terima kasih kakak-kakak, dan Om Tante untuk kadonya ya...

Thursday, February 28, 2013

Pulang Kampung

Kenapa pulang kampung?
  1. Karena Papyto akan melakukan field research di beberapa kota di Indonesia selama sebulan mulai Maret depan
  2. Mamyto kerepotan mengasuh tiga batita sekaligus tanpa bantuan tambahan 
  3. sebab Mama Aji juga harus balik ke Indonesia terkait masa visa kunjungannya
Maka kami bersepakat akan pulang kampung ramai-ramai tanggal 27 Februari. 
Belum genap sebulan usianya, Akachan akan menjalani perjalanan antar negara.  Untuk itu, Dokter Yamaguchi telah memajukan jadwal check up rutin (untuk bayi berusia 1 bulan) pada 20 Februari.  Dari hasil check up, kondisi fisik Akachan cukup sehat untuk perjalanan udara.  Pada kesempatan yang sama, kami meminta surat keterangan dari dokter anak buat antisipasi jikalau pihak maskapai memintanya. 

Karena yang akan berangkat jumlahnya segambreng, jadinya kami memilih penerbangan yang lumayan irit (baca: Air Asia) dengan rute Osaka-Kuala Lumpur-Denpasar.  Dari Denpasar ke Makassar menggunakan Garuda. Sedari awal hunting tiket, Papyto mengusahakan agar bisa dapat baby bassinet (walaupun cuma satu).



untuk infant (0-2 yo) disediakan stroller oleh pihak bandara Kansai-Osaka


nyaman di baby bassinet





transit di Kuala Lumpur, antrian di bagian imigrasi sangat panjang. petugas bandara Kuala Lumpur tidak ada yang bertampang ramah. bagi keluarga yang membawa anak pun tidak diberikan prioritas pelayanan

Lanjut ke Sorowako via bus malam Litha

saat bus singgah di warung makan

Kakak Zaila dan Abang Zidan lagi sibuk makan
Sharing Facts: 
  1. Tips dari dokter anak: untuk bayi seumuran Akachan yang melakukan perjalanan udara, sebisa mungkin terhindar dari kontak langsung dengan udara luar (khususnya di dalam area bandara), sebab virus mudah menyebar lewat udara.
  2. Pada saat pasawat akan take off dan landing, sebisa mungkin Akachan di beri ASI (mulutnya dalam keadaan mengisap) untuk menguragi resiko sakit pada telinga akibat perubahan tekanan udara.  
  3. Selama penerbangan dari Osaka ke Kuala Lumpur, stroller masuk bagasi dan baru bisa diambil saat tiba di Denpasar. Bagi yang membawa batita, penerbangan Air Asia dengan rute seperti ini kurang disarankan karena sangat menguras tenaga. Sebab saat transit di Kuala Lumpur, jarak antara bagian imigrasi (hati-hati! antrian disini sangat panjang dan tidak memprioritaskan mereka yang membawa anak) dengan terminal keberangkatan letaknya berjauhan (bagi yang kuat menggendong anak, salute!)
  4. Penggunaan baby carrier (gendongan bayi) sangat berguna untuk situasi mobile seperti ini

Saturday, February 9, 2013

Di Apato

Meskipun musim dingin, tapi Akachan harus rajin mandi lho ya :)





Friday, February 8, 2013

Tadaima!

Salah satu episode yang tidak kalah serunya saat melahirkan di negeri orang yaitu pemberian nama.  Faktor yang paling mendominasi saat itu: mumpung lahir di negeri orang, jadi sebisa mungkin nama bayi ala-ala negara tersebut, itung-itung jadi kenang-kenangan saat kembali ke negara asal kelak.

Maka segeralah para keluarga, teman dekat dan sahabat kami mengusulkan nama bayi perempuan yang ke-Jepang-Jepang-an.  'Oshin' adalah yang paling banyak terlontar dari mereka yang seangkatan dengan ibu-bapak kami.  Selanjutnya 'Michiko', 'Aiko', 'Yuki' kerap diusulkan oleh mereka yang seusia dengan saudara kami.  Dari angkatan yang paling muda tentu saja mengusulkan nama-nama para personil AKB48 seperti 'Sayaka', 'Tomomi', 'Mayuyu', dst.  Yang telah kehabisan ide akan menyumbang nama-nama produk seperti 'Masako', 'Ajinomoto', 'Shinzui', 'Shimizu', dan lain sebagainya.

Kami sedang mencari nama yang dimulai dengan awalan 'Zai-' agar kompak dengan nama para kakaknya.  Karena terikut arus,  berbekal kamus kantong bahasa Jepang karya Tetsuya Arai dan Budi Jatmiko, kami memilih kata  'Zaisan' yang artinya kepunyaan/harta kekayaan.  Tapi menurut pendapat dari Ono-san (teman kuliahnya Papyto) dan Oyamada sensei (Profesor pembimbingnya Papyto), nama tersebut kesannya terlalu 'straight' pada artinya (kalau di Indonesia pemberian nama 'Hartawan' masih wajar-wajar saja tuh).  Akhirnya diputuskan untuk tidak menggunakan nama itu, sambil mencari nama yang lebih islami :)


Kami memberinya nama Zaima Fatinah Rahman Goraoe
zaima / zaeema (arab) = leader
fatinah (arab) = intelligent, captivating (menawan)
rahman (nama Papyto) = penyayang
goraoe (klan keluarga)

Untuk panggilan akrab di rumah pakai nama 'Akachan' saja (artinya 'bayi'), soalnya dia paling bungsu (kelak akan mendapatkan perlakuan istimewa sebagai anak bayi dari kakek dan neneknya di Sorowako) :)

Semoga doa yang kami titip melalui namanya dirahmati oleh Allah SWT, amien.

7 Februari 2013,
Perjalanan pertama Akachan bertemu dengan dunia luar.  Suhu di luar telah sampai pada titik beku.  Hari ini Akachan akan pulang ke apato berkumpul kembali bersama Abang, kakak kembar, dan Mama Aji.


pemandangan dari teras apato room 212


seumur-umur naik taxi di Kyoto, baru kali ini dapat supir taxi yg muda belia.  Akachan emang beruntung deeh :)

Tadaima, Mama Aji!

Thursday, February 7, 2013

Romantisme Pasca Operasi

Satu hal yang menarik saat terdaftar sebagai pasien yang akan melahirkan di Kyoto Baptist Hospital adalah pemberian jadwal kegiatan (A Hospitalization Care Plan: an elective caesarean operation).  Karena Mammyto adalah pasien operasi sesar, maka ia mendapat daftar kegiatan untuk sembilan hari (dua hari menjelang melahirkan, dan tujuh hari pasca melahirkan).

Dan inilah momen-momen romantis pasca melahirkan...

01 Februari 2013
Pagi hari, perawat datang untuk mengecek bagian perut, cek darah dan melepas kateter.  Dilanjutkan dengan membersihkan tubuh dan menggantikan pakaian.  Mamyto sudah bisa mengkonsumsi nasi, sayur, lauk dan buah.  


kelaparan yang kalap..
sajian khas Jepang
Halalan Toyyiban :)
menghindari makanan haram, lebih mudah bilang alergi babi (dan segala turunannya) ke pihak RS dibanding menjelaskan kami ini muslim yang haram makan babi

menu diet selama di rumah sakit
beberapa makanan dengan bentuk dan rasa yang lumayan aneh...
menu wajib tiap saat

yogurt, jika tidak ada buah segar

Episode 'Mati Rasa'
Karena kateter sudah dilepas, waktunya untuk latihan jalan.  Perawat membantu Mamyto turun dari tempat tidur dan mengantar sampai ke depan pintu toilet.  Proses buang air kecil, lalu kembali ke tempat tidur berjalan lancar.  Efek anestesi epidural sepertinya bekerja dengan baik sebab Mamyto tidak merasakan sakit sama sekali. 
Siang harinya Mamyto latihan jalan ke toilet sendiri.  Tidak selancar yang pertama, kali ini kaki kiri Mamyto agak berat setiap kali melangkah.  Mamyto sangat kaget begitu berdiri seusai buang air kecil, kaki kirinya mati rasa! Dalam perjalanan kembali ke tempat tidur, Mamyto sempat dua kali terjatuh karena tidak bisa melangkah.  Di atas tempat tidur Mamyto coba menggerak-gerakkan kedua kaki.  Ternyata kaki kirinya mati rasa mulai dari bagian paha ke bawah, tidak bisa digerakkan sama sekali!  Mamyto panik dan segera melaporkan hal ini ke perawat.  Perawat menenangkan sambil menunggu dokter.  Hal pertama yang dokter lakukan setelah mendengar laporan perawat adalah memeriksa indikator anestesi epidural yang Mamyto kantongi.  Menurut dokter, kemungkinan besar 'mati rasa' itu efek dari anestesi epidural, sebab indikatornya menunjukkan angka 6, itu artinya dosis maksimal yang diberikan (pantas saja Mamyto tidak merasakan sakit sama sekali di bagian bekas operasi).  Dokter menurunkan dosisnya menjadi 4, dengan konsekuensi Mamyto mulai akan merasakan sedikit sakit.  Menjelang magrib dokter datang lagi, tapi belum ada perubahan dengan kaki kiri Mamyto.  Dokter menurunkan indikatornya menjadi 2, bila sakit bekas operasinya tidak tertahankan Mamyto boleh meminta tablet pain killer ke perawat.


Malam hari sekitar pukul 8 adalah jadwal untuk menyusui di nursing room.  Karena belum pulih benar, Mamyto diantar menggunakan kursi roda.  Sedikit demi sedikit rasa sakit dari jahitan di perut mulai terasa.  Beginilah jadinya jika dosis anestesi epidural dikurangi.  Di hari pertama menyusui, si bayi masih belum pintar mengisap ASI langsung dari puting (selama ini menggunakan dot).  Jadi sebagian besar waktu dipakai untuk membenarkan letak mulut di puting Mamyto agar dia bisa mengisap dengan benar, sampai-sampai tida ada waktu untuk memperhatikan perubahan signifikan pada kaki kiri Mamyto.  Sekembalinya dari nursing room tanpa disadari, Mamyto sudah bisa naik sendiri ke tempat tidur.  Pada akhirnya kaki kiri Mamyto mulai bisa digerakkan.  Benar kata dokter, mati rasa tadi efek dari anestesi epidural. 

  
02 Februari 2013
Sarapan seperti biasa, dilanjutkan mandi sendiri di kamar mandi.  Di kamar perawatan yang ada hanya toilet.  Kamar mandi umum letaknya agak jauh di ujung koridor.  Meskipun kamar mandi umum, namun kebersihannya sangat terjaga. Setiap pasien yang akan mandi wajib antri sesuai dengan tabel waktu mandi yang disediakan di ruang perawat.  Di tabel itu kita menuliskan jam berapa kita akan mandi, tentunya menyesuaikan dengan waktu mandi pasien lain yang telah tertera di tabel tersebut.  

selama lima hari ke depan Mamyto mandi bukan dgn sabun dan shampo melainkan conditioner! (akibat Papyto salah beli krn tdk bisa baca huruf kanji)
Sekitar jam sepuluh pagi Mama Aji dan Abang Zidan datang berkunjung, giliran Papyto yang tinggal di rumah jagain si kembar.  Sayangnya Akachan sedang tidur di kamar bayi, jadinya hanya bisa ditengok dari luar dinding kaca saja.



03 Februari 2013
Mandi pagi seperti biasa (Mamyto selalu dapat jatah mandi antara jam 09.00-10.00).  Selanjutnya menyusui Akachan.  Karena Mamyto tidak menempati kama privat, jadinya proses menyusui dilakukan di breastfeeding room, jaraknya sekitar 3 kamar dari tempat Mamyto (terbuka 24 jam).  Setiap saat suster akan datang menghampiri bila si Akachan bangun untuk minum susu, baik itu tengah malam atau subuh sekalipun.  Sejak hari pertama, ritme pemberian ASI sudah mulai terasa yakni setiap dua jam sekali.
Selain menyusui, rutinitas yang dilakukan bila masuk ke breastfeeding room adalah mencatat.  Mulai dari berat bayi, berapa kali pipis dan pup, berapa banyak susu formula yang diberikan, dan berapa kali ASI yang diberikan.

karena muslim, jadi kita diminta menyiapkan sendiri susu bayi.  kami nitip dibawakan sama Mama Aji.  

jadi Mammyto akan mendorong box bayi ini dari kamar bayi ke nursing room, begitupula sebaliknya bila proses menyusui telah selesai, box bayi didorong kembali ke tempat semula.  semua serba mandiri

suasana nursing room
disini Mamyto kerap bertemu dengan ibu asal Jepang dan Mesir yang menyusui bayinya

04 Februari 2013
Suster datang ke kamar untuk mengambil sampel darah dan urin.

tempat tidur Mamyto dan loker yang super langsing :)

pemandangan di luar jendela kamar




05 Februari 2013
Hari ini adalah latihan untuk memandikan bayi.  Karena Mamyto memiliki 3 anak sebelum ini, maka susternya tidak terlalu repot menjelaskan (apalagi dengan English yang terbata-bata).  Justru Mamyto yang tampak kerepotan mengikuti si suster memandikan Akachan dengan cara diapungkan dalam bathtub yang penuh air.

Setelah rapi dan wangi, selanjutnya bisa digendong sama Papyto deh :)


06 Februari 2013
Jadwalnya untuk memandikan sendiri Akachan (dengan pengawasan suster tentunya). Semuanya berjalan lancar.  Setelah sesi menyusui, bidan datang ke kamar untuk memeriksa kondisi Mamyto.  Hari ini sudah tidak minum pain killer sama sekali.  Bidan meminta maternity book yang nantinya bisa diambil saat check out besok.  Siang harinya Dokter Yamaguchi datang memeriksa dan menyatakan bahwa besok sudah bisa pulang.  Mamyto sekalian pamit dengannya.

siap-siap packing

07 Februari 2013
Sekitar pukul sembilan pagi Papyto datang menjemput. Kita berpamitan pada bidan dan para suster yang telah berbaik hati membantu kami selama di rumah sakit ini. Di bagian administrasi Papyto menyelesaikan pembayaran yakni sekitar 50.000 yen untuk biaya operasi tubektomi (jika tanpa itu, kami tidak membayar sepeser pun).  Selanjutnya pihak rumah sakit membantu memesan MK Taxi.   Sayonara!

nungguin Papyto di lobby
pemandangan dari lobby
ruang kerja para perawat
lobby tempat menerima tamu bagi para pasien yang tidak menempati kamar privat
kids corner untuk pengunjung yang membawa anak


Sharing Facts:
  • Kelengkapan seperti Birthing gown, pembalut (ukuran ekstra panjang dan reguler), breast pad, celana dalam khusus usai melahirkan (yg ada perekatnya dibagian bawah, yang memakaikan nantinya adalah bidan saat kita usai melahirkan), alkohol dan cotton buds, kotak kayu tempat menyimpan tali pusat bayi adalah barang-barang standar yang ada dalam set melahirkan, dibeli di kombini rumah sakit seharga 7.000 yen.  Set ini disetorkan saat check in.
  • Perlengkapan menginap yang disiapkan sendiri adalah piyama dengan kancing bukaan depan (untuk memudahkan saat menyusui) sebanyak 3 lembar, dalaman, handuk dan peralatan mandi, sumpit, gelas yang ada sedotannya, suripa (slippers), tidak lupa satu stel baju bayi untuk dipakaikan saat pulang nanti
  • Di hari kedua, ada perwakilan resmi dari pihak rumah sakit Baptist yang datang mengucapkan selamat tak lupa memberikan kartu ucapan yang kawaii, khusus kepada pasien Nasrani akan didoakan sesuai dengan keyakinan mereka.  
  • Sama jika menginap di rumah sakit Indonesia, baju kotor di titip ke keluarga yang menjenguk untuk di cuci di rumah :)
  • Maternity book akan dikembalikan setelah proses administrasi selesai dan bisa diambil saat check out.
berikut link tentang pengalaman para Ibu asal Indonesia yang melahirkan di Jepang, semoga berguna